Terabaikan karena Perebutan Kawasan - Warta 24 Kalimantan Timur
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}
www.uhamka.ac.id/reg

Terabaikan karena Perebutan Kawasan

Terabaikan karena Perebutan Kawasan

PROKAL.co PROKAL NEWS PRO KALTIM KALTIM POSTBALIKPAPAN POSSAMARINDA POSBONTANG POSTBERAU POST PRO KALTARA RADAR TARAKANBULUNGAN POSTKALTARA POS PRO …

Terabaikan karena Perebutan Kawasan

  • PROKAL.co
    • PROKAL NEWS
    • PRO KALTIM
      • KALTIM POST
      • BALIKPAPAN POS
      • SAMARINDA POS
      • BONTANG POST
      • BERAU POST
    • PRO KALTARA
      • RADAR TARAKAN
      • BULUNGAN POST
      • KALTARA POS
    • PRO KALSEL
      • RADAR BANJARMASIN
    • PRO KALTENG
      • KALTENG POS
      • RADAR SAMPIT
    • PRO KALBAR
  • BalikpapanTV
  • SamarindaTV
  • KPFMBalikpapan
  • KPFMSamarinda
  • Indeks Berita
MANAGED BY: MINGGU
10 DESEMBER UTAMA | SAMARINDA | METROPOLIS | OLAHRAGA | KALTIM | METROLIFE | BUJUR-BUJUR

UTAMA

Sabtu, 09 Desember 2017 13:26 Terabaikan karena Perebutan Kawasan

Laskar Pelangi di Batas Kota (2)

SEMANGAT MENGEJAR MIMPI. Kendati di tengah keterbatasan sarana dan prasarana belajar, lima dari 26 murid SD filial 004 di Kampung Berambai, sempaja Utara ini tetap memiliki cita-cita setinggi langit. ZAK/SAPOS

PROKAL.CO, Kaya dengan batu bara belum tentu membawa kesejahteraan. Di Kampung Berambai dengan potensi emas hitam luar biasa, sekolah dasarnya justru sengsara.
ZAKARIAS DEMON DATON
SATU demi satu murid SD 004 Filial Samarinda Utara tiba di sekolah. Jam menunjukkan pukul 07.30 Wita, ketika lonceng sekolah berteriak dengan cerewetnya. Seluruh murid yang jumlahnya 26, beberapa di antaranya berseragam kusam, buru-buru masuk ke kelas. Mereka terlihat sudah siap menghadapi ujian tengah semester pada Senin (4/12).
Adelia adalah murid kelas II di sekolah yang berdiri di Kampung Berambai, Kelurahan Sempaja Utara, Samarinda Utara. Gadis cilik itu baru usai bermain sebelum masuk kelas. “Saya mau jadi dokter,” kata Adelia ketika ditanya cita-citanya.
Sementara, Santika yang duduk di kela s V dan Anita dari kelas I memilih menjadi tenaga pendidik sebagai cita-cita mereka. “Guru itu hebat. Mereka bisa mengajar ilmu kepada orang lain,” tutur Santika dengan polos. Ibu Santika yang bernama Anisa tersenyum mendengar celotehan putrinya. “Makanya, Santika harus belajar terus. Biar bisa kuliah dan jadi sarjana,” kata Anisa memberi sedikit nasihat. Putrinya mengangguk tanda setuju.
Di tengah potret keterbatasan pendidikan di batas kota, cita-cita besar para murid tulus terurai. Mereka tidak sendirian. Sejak berdiri 25 tahun lalu, lima alumni SD 004 Filial sudah lulus perguruan tinggi.
Murid SD 004 Filial datang dari RT 35, RT 36, dan RT 37. Sekolah itu berdiri di RT 35. Tidak seperti di kota, RT satu dengan yang lain di Kampung Berambai terpisah jarak yang jauh. Murid dari RT 37 harus berjalan kaki 10 kilometer setiap hari untuk pergi dan pulang sekolah. Hamka, satu dari tiga guru, membenarkan hal itu. "Kami memberi toleransi kepada murid-murid yang ting gal di RT 37 ketika mereka terlambat masuk sekolah," terangnya.
SD 004 Filial adalah sekolah di batas kota. Hanya memiliki satu bangunan semenjak berdiri 25 tahun silam. Kondisinya pun kini sudah ringkih. Para murid harus berbagi ruangan karena hanya tersedia tiga kelas. Guru yang bertugas pun cuma tiga. Satu guru akhirnya mengayomi dua kelas di satu ruangan.
Kampung Berambai hanya memiliki satu sekolah. Sarana pendidikan itu berdiri tunggal di atas perbukitan kampung yang luasnya 11 ribu hektare. Kampung tersebut memiliki tiga RT yang dihuni 64 kepala keluarga. Sebagian besar mata pencaharian warga adalah bertani dan berkebun. Para penduduk yang berdiam sejak 1982 adalah transmigran dari berbagai daerah. Namun sebagian besar berasal dari Pulau Jawa. Angkatan kedua transmigran, terang Yohanis Bokko Kendek sebagai tokoh masyarakat setempat, menyusul pada 1987.
Tanah di Kampung Berambai tak berbeda dengan permukiman sekitar. Di bawahnya tersimpan potensi batu bara yang besar. Beberapa ekskavator asyik menggaruk tanah mencari harta hitam yang terpendam di pinggir jalan masuk kampung. Sementara truk besar pengangkut hasil tambang hilir-mudik tiada henti.
Namun, ketika di tempat lain adalah anugerah, kandungan emas hitam di Kampung Berambai justru bagaikan kutukan. Perutnya yang gembul dengan batu bara membuat Kampung Berambai menjadi rebutan.
Lai Taji selaku petua kampung, sebutan bagi kepala desa setempat, membenarkan hal itu. Kutai Kartanegara (Kukar) dan Samarinda adalah dua daerah yang memperebutkan Kampung Berambai. Adu ngotot kedua daerah, secara tidak langsung, membuat kampung itu terabaikan.
Sejak kedatangan transmigran 35 tahun silam, Kampung Berambai masuk wilayah Kukar. Persisnya di bawah Desa Bangun Rejo (L3), Kecamatan Tenggarong Seberang. Pada dekade 2000-an, Pemkot Samarinda tiba-tiba menerbitkan klaim. Kekayaan batu bara di batas kota itu menjadi pemicu. Wilayah kampung secara administrasi dimasukkan ke Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara. Warga RT 35 dan RT 37 pun menjadi penduduk Samarinda.
Sebenarnya ditilik dari lokasinya, kedua RT ini memang lebih dekat dengan Samarinda. Pada 2011, Pemkot Samarinda bahkan membuka jalan dari Batu Besaung, Sempaja Utara, menuju Kampung Berambai. Jalur sudah agregat waktu itu.
Perebutan kembali memanas ketika jalan tembus tadi hendak dicor beton. Pemkab Kukar menyatakan kedua RT tersebut sejak dulu masuk wilayah Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang. Kukar punya dasar. Fakta di lapangan menunjukkan akses transportasi dan transaksi masyarakat lebih dekat menuju Desa Bangun Rejo.
Konflik tapal batas sebenarnya sudah diselesaikan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak. Gubernur menerbitkan Surat Keputusan Nomor 136/590/BKPW-C/I/2012. RT 35 dan RT 37 dinyatakan milik Kukar. Keputusan itu memberi konsekuensi pemetaan ulang batas administrasi Desa Bangun Rejo karena penambahan dua RT. Dalam perjalanan, proses administrasi baik batas wilayah maupun kependudukan tak kunjung selesai.
Lagi pula, maunya pemerintah tak selalu selaras dengan masyarakat. Lai Taji mengaku, warga terus menunggu kepastian. “Kalau kami diberi pilihan, kami ikut Samarinda. Kami lebih diperhatikan daripada ikut Kukar,” ungkapnya. “Tapi kami tetap menunggu pemerintah. Apapun keputusannya, warga pasti mengikuti,” lanjut dia.
Perebutan Kampung Berambai yang ditengarai karena kepentingan perizinan pertambangan batu bara belum berakhir. Namun, cakar-cakar besi alat berat sudah menggaruk tanah di kampung itu. Kutukan sumber daya alam bagi Kampung Berambai telah berlaku. Walaupun dikelilingi perusahaan tambang, tak ada dampak positif bagi Kampung Berambai.
SD Filial 004 adalah saksi bisunya. Selama bertahun-tahun, bangunan SD itu reyot. Nyaris tidak ada bantuan dari swasta. Lai Taji hanya ingat, PT Kitadin yang beraktivitas di sekitar kampung yang pernah menyorong bantuan. Itu pun hanya beberapa lapis seng yang diberika n beberapa tahun silam.
Sekolah itu kini masuk wilayah Kukar. Padahal, SD 004 Filial berinduk kepada SD 004 di Jalan Padat Karya, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara. Kepala SD 004, Noni, tidak bisa dikonfirmasi mengenai perubahan status wilayah yang berdampak kepada status sekolah. Begitu pula dengan segala keterbatasan di SD Filial 004.
Ketika didatangi di kantornya, Noni sedang tidak di tempat. Sapos berusaha menghubungi telepon selulernya, namun tak dijawab. Begitu pula pesan pendek, Noni tidak membalasnya.
Ironisnya, Kepala Seksi Sarana dan Prasarana SD, Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda, Dwi Purnomo, justru tak mengetahui lokasi SD Filial 004. Kepada Sapos, Dwi mengatakan tidak pernah menerima laporan dari kepala sekolah. Padahal, kata dia, Disdik telah membagi perangkat kursi dan meja ke semua sekolah. SD Filial 004, sayangnya, tidak kebagian karena tak ada laporan.
"Kami tidak menutup mata dengan sekolah di pinggiran. Kalau ada lapor an masuk, pasti ditindaklanjuti," tegas Dwi. Disdik, lanjutnya, segera menurunkan tim untuk meninjau sekolah itu. Dia menambahkan, keterbatasan sumber daya manusia di Disdik turut menjadi penyebab SD 004 Filial tidak terpantau. “Bayangkan, kami hanya 15 orang harus mengawasi 213 SD di Samarinda,” keluhnya.
Kepala Disdik Samarinda Akhmad Hidayat satu suara. Akhmad mengatakan, pemkot sudah memperbaiki sejumlah sekolah seperti SD 004, SD 012 dan SD 013 di Palaran. Ada pula SD 004 di Sambutan. Setiap sekolah, terangnya, menerima bantuan pembangunan Rp 250 juta hingga Rp 450 juta.
Menyikapi hal itu, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang memastikan kembali posisi SD Filial 004. Jika masuk kewenangan Samarinda, pemkot segera membenahi. Jaang juga mengaku sudah berbicara empat mata dengan Plt Bupati Kukar Edi Damansyah. Pemkot Samarinda siap menyelesaikan status lahan dan kependudukan.
“Menyelesaikan masalah ini sebenarnya sangat sederhana. Tidak perlu rapat lama-lama. Wali kota dan Plt Bupati Kukar dipanggil gubernur, saya langsung tanda tangan di situ,” tegas Jaang. Dia mengakui, wilayah itu pernah menjadi rebutan. Tarik ulur penyelesaian masalah dilatarbelakangi potensi batu bara yang besar.
Gajah bertarung melawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah. Samarinda dan Kukar berebut wilayah, murid SD 004 Filial hanya bisa pasrah. (*/nha/habis)

BACA JUGA

Sabtu, 09 Desember 2017 13:23

Mengerikan, 6 Kasus Difteri di Kaltim

SAMARINDA. Penyakit difteri mendadak ramai diperbincangkan belakangan ini. Infeksi yang disebabkan bakteri… Jumat, 08 Desember 2017 15:03

Satu Bangunan, Tiga Guru, Enam Kelas

Perjuangan meraih pendidikan seperti di dalam novel Laskar Pelangi terjadi di mana-mana. Tak perlu jauh… Jumat, 08 Desember 2017 15:01

Peluru Misterius Nyaris Dikilokan

SAMARINDA. Menjelang Magrib, La Ibu bergegas menuju tempat kerjanya. Bukan kantor mewah melainkan hanya… Jumat, 08 Desember 2017 14:59

Di Sekolah Santun, di Lapangan Jadi Jenderal

Ke pergian Muhammad Toha Yasin bukan cuma kehilangan bagi keluarga dan kerabatnya. Bakatnya di lapangan… Kamis, 07 Desember 2017 15:59

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

“Allah Akbar… Allah Akbar…” Kalimat takbir saling bersahutan dikumandangkan… Kamis, 07 Desember 2017 15:57

Kematian Kecelakaan Penuh Kejanggalan

SANGATTA. Pihak keluarga curiga dan penasaran terhadap kematian Ibrahim Sembe (38), warga Kampung Tator,… Kamis, 07 Desember 2017 15:54

Tak Bisa Andalkan Mata, Cukup Meraba-raba

Kerja para relawan dan Tim SAR dalam setiap proses pencarian dan evakuasi korban tenggelam, memiliki… Rabu, 06 Desember 2017 17:45

“Tolong Temukan Temanku”

SAMARINDA. Jerit tangis tujuh remaja langsung pecah, kemarin (5/12). Tubuh mereka basah kuyup dan menggigil.… Rabu, 06 Desember 2017 17:43

Abun Minta Bebas

SAMARINDA. Dua terdakwa kasus dugaan pemerasan dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) pengelolaan parkir… Rabu, 06 Desember 2017 17:41

Wajib Begadang, Omzet Jutaan Menguap

Kawasan simpang empat Sempaja, Samarinda Utara, tak pernah luput dari banjir ketika hujan. Masyarakat… Jalur Balikpapan-Samarinda Dipalang Terios Lurah Gunung Lingai Melawan Pengantin Baru Tewas Tergantung Abun Minta Bebas Peluru Misterius Nyaris Dikilokan Belum Ada Persetujuan dari Warga Perantauan Bonyok di Tangan Tukang Wajib Begadang, Omzet Jutaan Menguap Tak Bisa Andalkan Mata, Cukup Meraba-raba Kematian Kecelakaan Penuh Kejanggalan
  • DUA LAGI PEMAIN BERGABUNG
  • Pupuk Kaltim Sukses Buktikan Peduli Lingkungan
  • Elpiji 3 Kg Kembali Langka
  • Tersinggung Dengar Ucapan Kasar
  • Kehilangan Bini
  • Terabaikan karena Perebutan Kawasan
  • Mengerikan, 6 Kasus Difteri di Kaltim
  • INGIN REGULASI DIUBAH
  • Maling Sukses Sambar 9 Ponsel
  • Bupati Minta CSR Tambang Dinaikkan
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • KALIMANTAN TIMUR
  • KALIMANTAN TENGAH
  • KALIMANTAN SELATAN
  • KALIMANTAN UTARA
  • KALIMANTAN BARAT
  • TENTANG KAMI
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
Find Us
Copyright &copy 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .Sumber: Google News | Warta 24 Kutai Kartanegara

Tidak ada komentar