Dulu Dihina Tetangga, Kini Dipuji - Warta 24 Kalimantan Timur
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}
www.uhamka.ac.id/reg

Dulu Dihina Tetangga, Kini Dipuji

Dulu Dihina Tetangga, Kini Dipuji

PROKAL.co PROKAL NEWS PRO KALTIM KALTIM POSTBALIKPAPAN POSSAMARINDA POSBONTANG POSTBERAU POST PRO KALTARA RADAR TARAKANBULUNGAN POSTKALTARA POS PRO KA…

Dulu Dihina Tetangga, Kini Dipuji

  • PROKAL.co
    • PROKAL NEWS
    • PRO KALTIM
      • KALTIM POST
      • BALIKPAPAN POS
      • SAMARINDA POS
      • BONTANG POST
      • BERAU POST
    • PRO KALTARA
      • RADAR TARAKAN
      • BULUNGAN POST
      • KALTARA POS
    • PRO KALSEL
      • RADAR BANJARMASIN
    • PRO KALTENG
      • KALTENG POS
      • RADAR SAMPIT
    • PRO KALBAR
  • BalikpapanTV
  • SamarindaTV
  • KPFMBalikpapan
  • KPFMSamarinda
  • Indeks Berita
MANAGED BY: SENIN
11 DESEMBER UTAMA | SAMARINDA | METROPOLIS | OLAHRAGA | KALTIM | METROLIFE | BUJUR-BUJUR

UTAMA

Minggu, 10 Desember 2017 21:15 Tujuh Bersaudara yang Mengubah Takdir Lewat Gulat Dulu Dihina Tetangga, Kini Dipuji

PROKAL.CO, Proses tak pernah membohongi hasil. Hal inil ah yang dialami tujuh bersaudara yang menempuh jalan hidup sebagai atlet gulat. Siapa menyangka, awalnya dihina kini mereka malah menuai pujian.
Yudi Dharmawan
RUDIANSYAH bergegas pulang ke rumahnya yang terletak di kawasan Asrama Type K Jalan Awang Long. Baju seragam putih dan celana pendek merah, bersalin menjadi baju kaos dan celana pendek. Bocah Kelas III SD itu tak memedulikan tawaran makan siang dari Rubiah, sang ibu. Hanya memakai sendal, siang itu, 28 tahun silam, Rudiansyah bersama teman sebayanya langsung menuju Gedung Nasional yang berada di Jalan Panglima Batur.

Meski cuaca panas terik, jarak antara rumah dengan Gedung Nasional yang bekisar 2 km tak dipedulikannya. Mereka menyusuri gang dan jalan raya Kota Samarinda yang saat itu masih jarang dengan kendaraan. Semangatnya berlatih gulat untuk pertama kalinya, menghapus rasa lelah berjalan kaki menuju tempat latihan.

“Dulu saya berangkat latihan rame-rame sama teman, jalan kaki,” ujar Rudiansy ah mengenang ketika pertama kali dirinya berlatih gulat.
Rudiansyah tak pernah menyangka kalau sepanjang hidupnya dihabiskan di atas matras. Pria yang kini berusia 37 tahun itu juga tak sengaja terjun ke olahraga yang dipertandingkan di atas matras tersebut. Sama seperti anak-anak lainnya yang tinggal di Asrama Type K, Rudiansyah kecil berlatih gulat juga karena ikut-ikutan. Tak ada motivasi untuk menjadi atlet profesional. Dia hanya senang ketika melihat Arbain, adik ibunya, yang selalu membawa bubur kacang ke rumah sepulang latihan gulat.

“Enak ya jadi pegulat, tiap habis latihan dapat bubur kacang,” ujar Rudiansyah kecil kala itu. Ya, bubur kacang menjadi makanan yang cukup mewah baginya saat itu. Sebagai anak kedua dari 8 bersaudara dengan penghasilan orangtua yang pas-pasan, Rudiansyah menganggap bubur kacang sudah menjadi makanan yang cukup langka. Rudiansyah tak sendiri ketika memutuskan ikut latihan gulat. Dia ditemani M Badriyansyah, adik yang usianya lebi h muda tiga tahun darinya.

“Kami selalu sama-sama. Mungkin karena usia yang tak terpaut jauh,” terangnya. Motivasi Rudiansyah dan Badri tak hanya bubur kacang. Melalui gulat, mereka ingin mengubah nasib. Mereka ingin mengangkat derajat keluarga yang selalu mendapat cibiran dari tetangga.

Yang menjadi teladan dalam berlatih adalah sang paman, Arbain. Arbain seolah menjadi ukuran orang sukses dalam keluarga. Dia berhasil menjadi PNS dan memiliki mobil berkat menjadi atlet gulat. “Ibu selalu bilang, kalau mau jadi PNS, latihan serius, biar bisa kayak om Arbain,” ujar Rudiansyah. Namun sang teladan tersebut meninggal dunia pada 2012 lalu di Samarinda.

Rudiansyah mulai serius pada gulat setelah dirinya masuk Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP). Saat itu, uang sekolahnya ditanggung pemerintah. Tugasnya hanya belajar dan latihan. Orangtuanya yakni Darmansyah dan Rubiah bangga. Setidaknya, beban hidup mereka berkurang karena biaya pendidikan sang buah hati ada yang menanggung. Di PPLP, Rudiansyah sudah memiliki tujuan dalam menggeluti gulat, yakni berprestasi dan mengangkat derajat keluarga.

Sampai pada akhirnya Rudiansyah dihadapkan pada dua pilihan berat; antara menjadi atlet gulat atau masuk sekolah tentara. Rudiansyah bimbang. Dia harus memilih, masuk tentara untuk meneruskan tradisi keluarga atau tetap bergelut di gulat. Sebab waktu pendaftaran masuk sekolah tentara, bersamaan dengan seleksi pembentukan tim senior gulat.

Jika dirinya memilih masuk tentara dan gagal lolos seleksi, maka impiannya untuk membela Kaltim tinggal kenangan. Sementara proses seleksi di gulat juga bukan perkara mudah. Dia harus menghadapi pegulat Kaltim peringkat 9 dunia tingkat junior.
“Saya Salat Istikharah,” tutur Rudiansyah. “Akhirnya saya putuskan, saya tetap ikut seleksi gulat.”

Tahun 2001, Rudiansyah mulai naik kelas ke level senior. Dari sini prestasinya terus menanjak. Dia ikut kejuaraan tingkat Asia, mera ih medali emas di dua edisi PON yakni 2008 di Kaltim dan 2012 di Riau. Sebagai anak kedua sekaligus anak laki-laki tertua, Rudiansyah berprinsip dirinya harus sukses. Jangan sampai gagal. Sebab dia ingin memberi contoh kepada adik-adiknya yang lain. Sekaligus menjawab komentar miring dari tetangga yang menghina keluarga mereka.

“Keluarga kami ini selalu dihina, diragukan tetangga,” tandasnya. “Anak banyak, bagaimana ngasih makannya itu,” ujar Rudiansyah mencontohkan cibiran tetangganya kala itu.

Sukses Rudiansyah sebagai pegulat menular ke adik-adiknya. M Badriyansyah (anak ketiga), Komariah (anak keempat), Ardiansyah (anak kelima), Dewi Ulfah (anak keenam), Aliansyah (anak ketujuh) serta Iriansyah si bungsu semuanya memilih jadi pegulat. Hanya kakak pertama mereka yakni Sherly yang tak menjadi pegulat, meskipun dirinya juga sempat menjadi atlet pelajar yakni di cabang atletik.
Puncaknya pada PON 2008 di Kaltim. Dari enam bersaudara yang turun bertanding kala itu, Rudiansyah, Badriyansyah, Komariah, Dewi Ulfah dan Aliansyah seluruhnya meraih medali emas. Hanya Ardiansyah yang meraih medali perak. Atas prestasi tersebut, mereka diganjar bonus Rp 150 juta per orang untuk peraih emas.

Rudiansyah berprinsip, dirinya tak akan menikah sebelum membelikan kedua orangtuanya rumah dan memberangkatkan mereka ke Tanah Suci untuk menunaikan haji. Mereka urunan. Uang bonus dibelikan rumah di Kompleks Batu Alam Permai (BAP) Jalan Anggrek Kala 1 Nomor 144. “Saya tak ada beli macam-macam, semua uang bonus saya untuk orangtua,” kenang Rudiansyah.
Pada 2009, Rudiansyah mendaftarkan namanya plus kedua orangtua untuk naik haji. Rukun Islam kelima itu terlaksana pada 2011. Kedua orangtua yakni Darmansyah dan Rubiah senang bukan kepalang. Mereka tak menyangka kesabaran dan keikhlasan mendidik anak berbuah manis di kemudian hari.

Memiliki rumah sendiri memang menjadi impian keluarga ini. Rumah di kawasan Asrama Type K status tanah nya bukan hak milik, melainkan milik TNI. Setiap saat, mereka bisa saja digusur. Mereka sempat menyewa rumah di Jalan Jelawat, sebelum akhirnya pindah ke rumah nenek di kawasan Asrama Type K.

Rudiansyah memang menjadi tulang punggung bagi adik-adiknya. Kegagalannya menjadi tentara untuk meneruskan tradisi keluarga, “dilampiaskan” pada Ardiansyah. Usai lulus SMA pada 2005, dia memaksa Ardiansyah untuk mendaftar menjadi polisi. Sang adik sempat menolak. Dia ingin seperti anak-anak lain, lulus SMA kemudian melanjutkan kuliah.

Demi sang adik bisa menjadi polisi, Rudiansyah bersama Arbain bahkan rela bolak-balik Samarinda-Balikpapan untuk mendaftarkan Ardiansyah menjadi polisi. “Tugasmu hanya ikut tes, yang lainnya urusan saya,” tegas Rudiansyah kepada Ardiansyah kala itu.
Sang adik menurut. Dia bersedia ikut tes dan berhasil lulus. Perjuangan itu pun tak sia-sia. Ardiansyah akhirnya berhasil menjadi abdi negara bahkan masuk 10 besar lulusan terbaik. Saat menj adi polisi itu pula, mental Ardiansyah sebagai pegulat semakin terasah.

CIBIRAN TETANGGA, SEMANGAT MENDIDIK ANAK
Rubiah hanya bisa menahan sakit hati di dada. Air matanya habis karena tak henti-hentinya menangis jika mendengar komentar-komentar tetangga tentang keluarga mereka.

Namun, cemoohan bernada miring dari para tetangga tak membuatnya patah semangat dalam mendidik anak-anaknya untuk menjadi orang sukses. Sambil mengelus punggung Badriyansyah kecil, dia mendoakan sang anak. “Semangat anakku,” ujarnya.
Rubiah tahu tentang gulat dari sang adik, Arbain. Awalnya dirinya tak setuju Arbain menggeluti olahraga gulat karena bisa menyebabkan cedera.

Tapi Arbain punya pendirian keras. Dia berhasil menjadi juara. Di situ Rubiah mulai merasa gulat olahraga tepat untuk anak-anaknya. Apalagi Arbain juga bisa menjadi PNS berkat gulat, dirinya pun mengarahkan anak-anaknya untuk menjadi pegulat.
“Anak-anak memang saya anjurkan, daripada mereka terjeru mus ke pergaulan yang salah,” tandasnya.
Tak hanya menghindarkan anak-anaknya dari kenakalan remaja, Rubiah juga meyakini kelak melalui gulat lah jalan hidup anak-anaknya akan berubah.

Demi keberhasilan anak-anaknya, Rubiah rela melakukan pekerjaan apapun sepanjang halal. Dirinya sudah bangun pukul 03.00 Wita untuk mempersiapkan dagangan. Apapun dijualnya, utamanya makanan tradisional. Bekerja di rumah makan pun dilakoni. “Pokoknya saya itu apapun saya lakukan demi membiayai hidup anak-anak saya,” tandasnya. Rubiah terpaksa bekerja karena penghasilan Darmansyah, sang suami, tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Hinaan dari tetangga seolah menjadi makanan sehari-hari. Namun Rubiah dan anak-anaknya menganggap hinaan tersebut sebagai angin lalu. Justru, hinaan tersebut menjadi cambuk untuk meraih kesuksesan.

Berkat kesabaran dan kegigihan Rubiah dan suami, anak-anak mereka kini menjadi orang sukses. Rudiansyah dan Badriyansyah menjadi PNS di Di nas Pemuda dan Olahraga Kaltim. Mereka diangkat menjadi PNS melalui jalur prestasi karena meraih emas di PON 2008.

Ardiansyah kini bertugas di Satuan Sabhara Polresta Samarinda. Dewi Ulfah, kini menjadi staf di PDAM Tirta Kencana Samarinda. Sementara Aliansyah dan Iriansyah, keduanya menjadi staf di Dispora Samarinda. Hasil jerih payah mereka pula, masing-masing anak Rubiah sudah memiliki kendaraan roda empat dan rumah. Bahkan, para tetangga yang dulunya menghinanya kini justru balik memuji. Mereka menilai hidup Rubiah kini sudah enak, karena anak-anaknya menjadi orang sukses.

“Saya tidak dendam kepada orang-orang yang dulu menghina saya,” ujarnya. Bahkan hubungan silaturahmi tersebut masih terjalin hingga saat ini.
Dari ketujuh saudara pegulat ini, Rudiansyah dan Badriyansyah memutuskan pensiun sejak 2008 lalu dan beralih menjadi pelatih. Saat ini tersisa Ardiansyah, Dewi Ulfah, Aliansyah dan Iriansyah yang masih aktif sebagai atlet. Ardiansyah, Dewi dan Al iansyah bahkan meraih medali emas pada Kejurnas 2017 di Jakarta beberapa waktu lalu. (*/nha)

BACA JUGA

Minggu, 10 Desember 2017 20:42

Beasiswa Macam-macam Ringankan Beban Orangtua

Kalau anak pejabat lulus di universitas luar negeri dengan hasil memuaskan mungkin hal biasa. Karena… Sabtu, 09 Desember 2017 13:26

Terabaikan karena Perebutan Kawasan

Kaya dengan batu bara belum tentu membawa kesejahteraan. Di Kampung Berambai dengan potensi emas hitam… Sabtu, 09 Desember 2017 13:23

Mengerikan, 6 Kasus Difteri di Kaltim

SAMARINDA. Penyakit difteri mendadak ramai diperbincangkan belaka ngan ini. Infeksi yang disebabkan bakteri… Jumat, 08 Desember 2017 15:03

Satu Bangunan, Tiga Guru, Enam Kelas

Perjuangan meraih pendidikan seperti di dalam novel Laskar Pelangi terjadi di mana-mana. Tak perlu jauh… Jumat, 08 Desember 2017 15:01

Peluru Misterius Nyaris Dikilokan

SAMARINDA. Menjelang Magrib, La Ibu bergegas menuju tempat kerjanya. Bukan kantor mewah melainkan hanya… Jumat, 08 Desember 2017 14:59

Di Sekolah Santun, di Lapangan Jadi Jenderal

Kepergian Muhammad Toha Yasin bukan cuma kehilangan bagi keluarga dan kerabatnya. Bakatnya di lapangan… Kamis, 07 Desember 2017 15:59

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

â €œAllah Akbar… Allah Akbar…” Kalimat takbir saling bersahutan dikumandangkan… Kamis, 07 Desember 2017 15:57

Kematian Kecelakaan Penuh Kejanggalan

SANGATTA. Pihak keluarga curiga dan penasaran terhadap kematian Ibrahim Sembe (38), warga Kampung Tator,… Kamis, 07 Desember 2017 15:54

Tak Bisa Andalkan Mata, Cukup Meraba-raba

Kerja para relawan dan Tim SAR dalam setiap proses pencarian dan evakuasi korban tenggelam, memiliki… Rabu, 06 Desember 2017 17:45

“Tolong Temukan Temanku”

SAMARINDA. Jerit tangis tujuh remaja langsung pecah, kemarin (5/12). Tubuh mereka basah kuyup dan menggigil.… Pengantin Baru Tewas Tergantung Peluru Misterius Nyaris Dikilokan Abun Minta Bebas Wajib Begadang, Omzet Jutaan Menguap Tak Bisa Andalkan Mata, Cukup Meraba-raba Kematian Kecelakaan Penuh Kejanggalan Di Sekolah Santun, di Lapangan Jadi Jenderal Jalur Balikpapan-Samarinda Dipalang Terios “Tolong Temukan Temanku” Beasiswa Macam-macam Ringankan Beban Orangtua
  • Ada Pengganti, Terens Dilepas
  • Bisnis Haram, Sekeluarga Diringkus
  • Berburu Laba dari Dunia Maya
  • Dulu Dihina Tetangga, Kini Dipuji
  • Beasiswa Macam-macam Ringankan Beban Orangtua
  • Kada Bisa Bekunyu ng
  • DUA LAGI PEMAIN BERGABUNG
  • Pupuk Kaltim Sukses Buktikan Peduli Lingkungan
  • Elpiji 3 Kg Kembali Langka
  • Tersinggung Dengar Ucapan Kasar
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • KALIMANTAN TIMUR
  • KALIMANTAN TENGAH
  • KALIMANTAN SELATAN
  • KALIMANTAN UTARA
  • KALIMANTAN BARAT
  • TENTANG KAMI
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
Find Us
Copyright &copy 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .Sumber: Google News | Warta 24 Samarinda

Tidak ada komentar