Ada Enam Kawasan di Berau Endemik DBD, Ini yang Dilakukan ... - Warta 24 Kalimantan Timur
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Ada Enam Kawasan di Berau Endemik DBD, Ini yang Dilakukan ...

Ada Enam Kawasan di Berau Endemik DBD, Ini yang Dilakukan ...

Ada Enam Kawasan di Berau Endemik DBD, Ini yang Dilakukan Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Berau menetapkan enam kawasan sebagai endemik demam berdarag dengu…

Ada Enam Kawasan di Berau Endemik DBD, Ini yang Dilakukan ...

Ada Enam Kawasan di Berau Endemik DBD, Ini yang Dilakukan Dinas Kesehatan

Dinas Kesehatan Kabupaten Berau menetapkan enam kawasan sebagai endemik demam berdarag dengue (DBD)

Ada Enam Kawasan di Berau Endemik DBD, Ini yang Dilakukan Dinas Kesehatantribun kaltimPetugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, dalam sepekan ini rutin melakukan pengasapan ke sejumlah titik yang dianggap rawan berkambangnya nyamuk Aedes Aegypti pembawa penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Dinas Kesehatan Kabupaten Berau menetapkan enam kawasan sebagai endemik demam berdarag dengue (DBD), yakni kawasan Jalan Durian I, Jalan Durian II dan III, kawasan Jalan Manggis, kawasan Gunung Panjang, s ekitar Jalan Pulau Panjang hingga menyebar ke Gunung Tabur dan Kelurahan Rinding Teluk Bayur. Kasus DBD juga bermunculan di Kecamatan Segah, Talisayan hingga Bidukbiduk.

Terlebih lagi, saat ini Berau kerap diguyur hujan, akibatnya muncul genangan yang menjadi tempat yang ideal bagi nyamuk Aedes Aegypti yang membawa DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Berau Totoh Hermanto mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan . Dengan melakukan pembersihan saluran drainase, membersihkan sampah yang menjadi genangan air. Karena nyamuk Aedes Aegypti ini berkembangbiak dalam genangan air.

Baca: Perbaiki Jalan Berlubang Trans Malinau-KTT tak Kunjung Selesai, Ternyata Ini Alasannya

Tahun-tahun sebelumnya, Dinas Kesehatan harus kerja ekstra meredam penyebaran DBD. Salah satunya dengann melakukan fogging (pengasapan) di sejumlah kawasan yang dianggap rawan.

"Setiap hari kita lakukan fogging, kita turunkan seluruh pegawai kita, lok asi-lokasi yang dianggap rawan kita foging. Kondisi ini membutuhkan banyak biaya, jadi pepatah lebih baik mencegah daripada mengobati, sangat tepat sekali," tegasnya.

Dijelaskan Totoh, pengasapan hanya efektif pada nyamuk Aedes Aegypti dewasa, sementara jentik-jentik nyamuk tak terpengaruh dengan pengasapan. "Jadi tidak cukup dengan foging, harus dibarengi dengan menjaga kebersihan lingkungan dan pemberian abate ke tempat-tempat penampungan air," imbuhnya.

Baca: Mengejutkan! Pernah Diculik, Pria Ini Akhirnya Bertemu Orangtua Kandungnya Setelah 20 Tahun

Totoh mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut serta membasmi nyamuk Aedes Aegyptidan jentik-jentiknya. "Upaya yang kami lakukan ini tidak akan berhasil tanpa dukungan dari masyarakat. Harus ada kesadaran dari warga dengan menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi genangan-genangan air," ujarnya.

Menurut dia, mengatasi kasus DBD memang sulit, terutama di musim penghujan seperti sekarang. Kondisi ini membuat nyamuk Aedes Aegypti berkembang biak dengan cepat.

Baca: Tak Kunjung Dapat Pendamping, Ridwan Kamil: Penuh Drama. . .

"Sekarang memang cukup sulit diatasi karena masuk musim penghujan dan pertumbuhan jentik-jentik menjadi nyamuk itu fase-nya hanya beberapa minggu untuk menetas," bebernya. (*)

Penulis: Geafry Necolsen Editor: Sumarsono Sumber: Tribun Kaltim Ikuti kami di Pria yang Berbulan-bulan Melaut Ini Kaget Pulang Ada Fotonya dan Abu Jenazah, Ternyata yang Terjadi Sumber: Google News | Warta 24 Berau

Tidak ada komentar