Masjid Tua di Cirebon Ini Simbol Kerukunan Sejak Zaman Penjajahan - Warta 24 Kalimantan Timur
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Masjid Tua di Cirebon Ini Simbol Kerukunan Sejak Zaman Penjajahan

Masjid Tua di Cirebon Ini Simbol Kerukunan Sejak Zaman Penjajahan

Rabu 29 November 2017, 19:30 WIB Masjid Tua di Cirebon Ini Simbol Kerukunan Sejak Zaman Penjajahan Sudirman Wamad - detikNews Foto: Sudirma…

Masjid Tua di Cirebon Ini Simbol Kerukunan Sejak Zaman Penjajahan

Rabu 29 November 2017, 19:30 WIB Masjid Tua di Cirebon Ini Simbol Kerukunan Sejak Zaman Penjajahan Sudirman Wamad - detikNews Masjid Tua di Cirebon Ini Simbol Kerukunan Sejak Zaman PenjajahanFoto: Sudirman Wamad Cirebon - Masjid Baiturrahman Sukadana merupakan salah satu bangunan tua di wilayah Cirebon Timur, tepatnya di Desa Sukadana, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Masjid Baiturrahman Sukadana memiliki keunikan tersendiri. Karena memadukan tiga kebudayaan, yakni Tiongkok, Jawa, dan Eropa. Masjid ini tak memiliki momolo. Bagian atas masjid menyerupai bangunan keraton, identik dengan per adaban di Jawa.
Masjid Tua di Cirebon Ini Simbol Kerukunan Sejak Zaman PenjajahanFoto: Sudirman Wamad

Sedangkan bangunan tengah masjid lebih identik dengan budaya Tiongkok. Ventilasinya berbentuk bintang. Sedangkan, keramiknya berwarna kuning dan merah dengan motif seperti bunga, identik dengan gaya Eropa. Ruang utama masjid berdiameter sekitar 10 meter, namun tak ada tiang penyangga.
Di atas pintu utama masjid terdapat tulisan arab yang menandakan berdirinya bangunan masjid ini, yakni hari Senin bulan Jumadil Awal dalam kalendar Jawa dan tahun 1338 H. Ketua DKM Masjid Baiturrahman Sukadana, Angkart (64) mengatakan usia Masjid Baiturrahman Sukadana mencapai satu abad.
"Sekarangkan sudah masuk tahun 1439 hijriah, hitungannya masjid ini sudah satu abad. Sejarah masjid ini berdiri ada kaitannya dengan pabrik gula waktu zaman dulu, sekitar tahun1912," kata Angkrat saat ditemui detikcom di Masjid Baiturrahman Sukadana, Rabu (29/11/2017).
Masjid Baiturrahman Sukadan memiliki keunikan lainnya. Angkrat mengatakan, pintu dan jari-jari pada ventilasi berjumlah sembilan. Nampak depan pintu masjid berjumlah tiga, kemudian di samping kanan dan kiri masing-masing berjumlah tiga.
"Semua kayu yang ada di masjid ini berbahan jati. Hampir semuanya masih asli, kita hanya melakukan peremajaan seperti mengganti warna cat dan sebagainya. Kalau kayu masih asli semua," ucapnya.
Masjid Tua di Cirebon Ini Simbol Kerukunan Sejak Zaman PenjajahanFoto: Sudirman Wamad

Lebih lanjut Angkrat mengatakan, perpaduan tiga budaya yang tersimbol dalam Masjid Baiturrahman Sukadana merupakan bentuk syiar agar tetap menjaga kerukunan antar sesama. "Semua kalangan pada waktu itu dirangkul, pemilik pabrik yang dari Tiongkok terwakil dengan adanya bangunan yang identik dengan Tiongkok, masyarakat Jawa, dan penjajah pun terwakili karena ada dalam masjid itu," tuturnya.
Angkrat bercerita, berdirinya masjid berawal dari para pekerja pabrik gula, saat ini menjadi kompleks perkantoran Sub-Proyek Cisanggarung di Pabuaran mayoritas beragama Islam. Saat waktu zuhur tak sedikit para pekerja pabrik itu pulang ke rumah masing-masing untuk beribadah.
Namun, hal tersebut dirasa kurang efektif. Sehingga, sambung Angkrat, dua pekerja pabrik gula, yakni Raden Mas Setia Praja dan Kiai Akna memiliki inisiatif untuk mengajukan pembangunan masjid ke pihak pabrik gula.
"Mereka memberikan saran kepada Tan Tjin Kie, pemiliki pabrik agar dibuatkan tempat beribadah. Kemudian, Raden Mas Setia mengupayakan sebidang tanah, dipilih lah di sini (Sukadana)," uc apnya.
Angkrat mengatakan pasca pembangunan masjid Raden Mas Setia dibuang ke Boven Digoel. Karena terlibat aktif melawan penjajah. Pengelolaan masjid, sambungnya, dilimpahkan ke H Taryamah. "Raden Mas Setia Praja itu dibuang, karena merupakan tokoh pergerakan nasional. Masjid ini peningalan sejarah penjajahan dulu," ucapnya.
(avi/avi)Sumber: Google News | Warta 24 Cirebon

Tidak ada komentar